Sri Sultan Hamengkubuwono X
Di dalam Alkitab diceritakan bagaimana Yakub saat ingin mendapatkan Rachel, dia harus menikahi Lea terlebih dahulu. Demikian pula Abraham, karena sekian lama tidak mendapatkan anak dari istrinya Sarah, Tuhan mengijinkannya menikahi Siti Hajar. Dan juga kisah Raja Salomo/Sulaiman, dimana dia raja yang diberkati Tuhan dengan kekayaan yang melimpah serta 700 istri. Melihat latar belakang itu semua, poligami pernah diperkenankan. Namun, kembali dari pernyataan diatas bagaimana mereka harus menerima “Harga yang harus dibayar”.
Harga yang harus dibayar oleh Abrahan adalah anak cucu-nya harus mengalami peperangan hanya untuk memperebutkan kota perjanjian Yerusalem sampai saat ini. Dia menjadi nabi yang diagungkan oleh tiga kelompok keyakinan besar yaitu Nasrani, Yahudi dan Islam. Tiga keyakinan yang seharusnya bersaudara dan mendiami kota miliki nenek moyang mereka yang sama secara damai, namun kenyataannya tidak semudah itu. Harga yang harus dibayar adalah perang antar saudara beratus-ratus tahun.
Harga yang harus di bayar Yakub adalah anak cucu-nya yang saling mengalami iri dan dengki. Bagaimana dikisahkan Yusuf (anak Yakub) yang selalu diburu oleh saudara-saudaranya untuk dibunuh. Demikian pula Salomo yang akhirnya jatuh dari kekuasaannya karena jatuh cinta lagi dengan seorang wanita asing yang akan dijadikan istri kesekian ratus-nya. Pria yang tidak pernah puas dengan wanita-wanita disekitarnya pasti akan mengalami kejatuhan juga suatu kali. Pria yang tidak mampu menjaga hatinya dan menjaga kesetiaannya harus membayar perih dibalik manis berliter-liter madu sekitarnya. Salomo akhirnya berpaling dari Tuhan dan menyembah berhala sampai akhir kisahnya dengan terpecah belah kerajaannya.
Lalu, apa lagi yang perlu dipelajari sisi positifnya? Apa hikmahnya? Poligami memiliki TUMBAL, poligami harus mengambil resiko besar. Demikian Sri Sultan X menceritakan betapa tidak menyenangkan masa kecil hingga dewasa yang dialami saat tinggal bersama saudara-saudara dari hasil poligami ayahnya. “Saya tidak ingin anak-anak saya mengalami apa yang pernah saya rasakan”, kata beliau dalam wawancaranya di sebuah acara di Metro TV.
Poligami saat ini telah banyak disalah artikan banyak orang. Jaman sudah berubah, hak asasi manusia sudah diperjuangkan, sejarah hanya perlu dipelajari sebagai bacaan semata dan tak semua bisa diimplementasikan sama dengan peradaban jaman ini. Jika anda memang terlahir di jaman ini, hiduplah dijaman ini dengan bijak!.
0 Response to "Penomena'Poligami'di Indonesia"
Posting Komentar