Cerita tentang kehebatan para wali itu sudah banyak dikenal, bahkan begitu terkenalnya mitos-mitos itu sampai mengaburkan perjuangan dakwah para wali yang sesungguhnya. Dalam benak kita yang ada adalah, para wali itu orang yang sakti mondroguna, ora tedas tapak paluning pande, bisa menghilang, bisa berjalan di atas air, bisa membangun masjid dalam semalam, mampu membangun masjid megah hanya dari tatal (potongan kayu) dan segala macam mitos kesaktian.
Mitos itu menempatkan para wali sebagai mahluk yang amat mulia, bahkan dengan sanjungan kemuliaan yang berlebihan, melebihi pejuang Islam angkatan sebelumnya. Kehebatan dan kesaktian para wali begitu diagungkan sehingga banyak yang melupakan esensi perjuangannya. Cerita-cerita tentang kehebatan para wali justru menghilangkan ajaran pemurnian Tauhid yang mereka dakwahkan. Padahal dakwah para wali itu begitu hebat untuk menyelamatkan akidah umat dari kesesatan dan kemusyrikan.
Kita harus melihat bahwa pada jaman Rasulollah, para Sahabat maupun para Tabiin tidak pernah diceritakan menggunakan kesaktian. Rasulullah saja ketika perang Uhud diceritakan sampai terluka, gigi seri beliau patah serta topi perang beliau juga hancur. Fatimah putri Rasulullah saw. lalu membersihkan darah beliau sementara Ali bin Abu Thalib menuangkan air ke atas luka dengan menggunakan perisai. Dari cuplikan kejadian diatas saja kita dapat melihat bahwa pada jaman tsb para mujahid Islam menggunakan baju besi dan perisai sebagai alat untuk melindungi tubuhnya. Sedangkan pada jaman wali songo diceritakan bahwa para wali kebal thd senjata apapun. Tapi mengapa para pejuang Islam pada saat itu sampai dapat menghancurkan 2 kekaisaran yg kuat yaitu Byzantium dan Persia padahal mereka tidak dilengkapi dengan kesaktian yg hebat?? Itu karena mereka dilengkapi dgn Iman yg kuat thd Allah, Usaha yg sungguh2, dan pantang putus asa dalam menghadapi berbagai masalah..
Kata wali begitu sakral, begitu terhormat dan tidak semua orang bisa menjadi wali. Periode wali seakan sudah selesai setelah mangkatnya Wali songo. Padahal, yang namanya Waliullah itu tidak terbatas kepada para mujahid yang menyebarkan Islam di tanah Jawa saja. Waliullah adalah orang yang dicintai Allah, dilindungi Allah, karena ketaatan, iman dan taqwanya. Jadi, wali bukan predikat yang kaplingnya hanya dimiliki oleh orang dengan kasta tertentu. Siapa saja bisa jadi wali, menjadi orang yang dicintai dan dilindungi Allah.
Para wali Allah adalah orang yang tidak punya rasa takut dan khawatir menghadapi kehidupan dunia. Mereka selalu optimis menjalani kehidupan, karena sudah tahu ada yang menanggung hidupnya. Istiqamah menjadi pegangan hidupnya dalam menjalankan ibadah. Tidak cukup hanya ibadah wajib yang jadi menu hariannya, ibadah sunnah pun tak pernah ditinggalkannya. Orang-orang yang melengkapi ibadah wajibnya dengan ibadah sunnah akan mendapat tempat termulai di Jannatul Firdaus, jannah yang paling tinggi.
Punteeeen n maap saya menulis ini hanya ingin mengeluarkan unek2 saya, karena pada jaman sekarang agama Islam dianggap agama yg penuh tahayul, padahal jika kita melihat kehidupan pada jaman Rasulullah betapa Islam itu adalah agama indah yg melarang kepada tahayul. Tahayul sangat dekat sekali dengan Syirik…dosa yang paling besar..
Dari berbagai sumber……………………………Ries……….
0 Response to "Kesaktian Wali songo"
Posting Komentar